Sunday, April 13, 2003

Sketsa Gerimis Berdiri

tak kukenal lagi hujan gerimis yang berdiri
di depan pintu.
kabut telah menjadi sepotong senja
pada bingkai jendelaku.
tapi di bawah jendela itu
masih kulukis jejakmu

pada angin yang menjauh
tak kubaca lagi bayangan gerimis yang bergerak
di dalam cermin.
pada tubuhmu tak ada pohon
dan daunan basah.
engkau telah menjadi cakrawala
yang kelam,
memadamkan matahari yang berputar
di dalam cermin itu pada gerimis yang berdiri di depan pintu,
aku masih menunggumu,
seperti garis-garis hujan yang terputus di dalam kanvas.
seperti batu-batu yang
begitu tabah menata dinding lukisan rumahku

stasiun sunyi

cemara berderai-derai saja
sejak dari jauh terasa waktu semakin mengasuh.
semakin aku lusuh
di stasiun terakhir segalanya menyerbu
kenangan dan secangkir kopi warna biru memenuhi pikiranku.
lukisan yang tak kekal seperti kemah-kemah
awan di langit menghapus jejak matahari.
gelap mengekal masih saja masa lalu menjadi rasa sakit yang bergetah.
aku tak tahu akan kembali padamu,
atau sekalian kutinggal menuju ketakpastian yang bernama sepi
di stasiun.
keraguan menyerangku seperti wabah menerpa ubun-ubunku hingga segala lupa,
juga senyum manismu.
Aku masih duduk di sini...
padahal sudah sejam yang lalu keretamu pergi...
Sebentar lagi salju datang menutupi jalan pulangku
Tapi, aku masih di sini
Terlalu berat berada di stasiun
yang jadi sepi sepeninggalanmu...

Di Bawah Sebuah Bintang Kecil

Aku minta maaf pada peluang
karena menyebutnya penting.
Aku minta maaf pada penting
jika ternyata aku keliru.
Tolong jangan marah, kebahagiaan,
jika kau kuambil
sebagai hakkku

Semoga kematianku sabar melihat kenangan-kenanganku
menghilang.
Aku minta maaf pada waktu atas segala dunia yang
kuintip tiap detik
Aku minta maaf pada cintaku di masa lalu
karena mengira yang terakhir adalah yang pertama.
Maafkan aku,
wahai perang yang jauh karena pulang
membawa bunga.
Maafkan aku, wahai luka yang menganga,
karena menyuntik jariku.
Aku minta maaf atas segala perbuatan jahatku pada
mereka, yang menangis dari kedalaman.
Aku minta maaf pada mereka yang menunggu si stasiun
kereta karena telah tertidur hari ini pada jam lima subuh.
Maafkan aku, wahai harapan yang melolong-lolong,
karena tertawa dari waktu ke waktu.
Maafkan aku,
wahai gurun,
karena aku tak menyuruhmu
berlari demi sesendok air.
Dan engkau,
rajawali,
tak berubah dari tahun ke tahun
selalu di sarang yang sama,
tatapan matamu selalu tepat berada di titik yang sama
dalam ruang

Maafkan aku,
bahkan jika ternyata engkau telah mati kaku
Aku minta maaf pada pohon-pohon yang ditebang demi
empat kaki meja
Aku minta maaf pada pertanyaan-pertanyaan besar atas
jawaban-jawaban kecil
Kebenaran, tolong jangan begitu pedulikan aku
harga diri, bermurah hatilah..
Beranaklah bersamaku, o misteri keberadaan
bersamaan dengan itu kutarik benang peristiwa dari keretamu.
Jiwaku,
jangan kau ambil hati bahwa hanya engkau
yang kumiliki dari dulu hingga kini.
Aku minta maaf pada segala sesuatu karena aku tak bisa
berada di semua tempat pada saat yang bersamaan.
Aku minta maaf pada setiap orang karena aku tak dapat
menjadi separoh wanita dan separoh pria.
Aku tahu aku tak akan dibenarkan selama masih hidup
jangan bebani aku dengan kehendak untuk sakit,
wahai pidato
karena aku membawa kata-kata yang berat,
Berilah aku tugas yang berat sehingga kata-kata itu
akan tampak ringan.

jatuh

ada yang jatuh
dari langitsebutir airmata
entah siapa punya
ada yang jatuh dari langit
sebuah huruf
entah bagaimana bunyinya
di angkasa tak berwarna
layang-layang sisa
musim yang silam
berkelana
mencari pemiliknya
merindukan pemiliknya
ada darah
di ujung benangnya
tidak berwarna

Friday, March 28, 2003

Surat 2

:langitsenja

ngit,
tulisanmu membangkitkan semua kenangan yang membatu, tiba tiba tumbuh seperti pucuk dahan pinus lepas musim gugur. aku jadi seperti pertapa yang turun dari gunung, jauh dan menyediri. sesuatu yang diam tak bergerak selama tujuhbelas bulan berderik derik. indahnya kenangan itu...

tulisanmu seperti titik hujan pertama setelah sekian abad tak pernah ada cerita tentang hujan; keajaiban dari langit maya. aku menangis sewaktu kamu bolehkan aku menyetubuhi suaramu, suara yang itu itu juga, yang dulu meluluh lantakkan segenap kelelakianku, memabokka aku dalam permainan kosmos.

biar saja kukatakan padamu bahwa aku telah menghukum diri dengan menghujamkan belati dijantungku (karena sikapku padamu dulu). dan perihnya kunikmati setiap detik kenangan tentangmu lewat diotakku. aku tak boleh menangis sebab aku lelaki, aku tak boleh mengeluh sebab aku jantan, tetapi bertemu denganmu aku membiarkan diriku seperti mengemis dan meratap atas keadaan hatiku yang compang camping. nuraniku mengijinkan aku untuk terpuruk dikakimu, memperbolehkan aku untuk menunjukkan luka luka membusuk yang kusembunyikan.

dan hari ini ngit,
separuh gunung batu yang menghuni rongga dadaku kau lumatkan dengan suaramu, dengan tulisan mu dan dengan kehadiranmu. dan sekian waktu aku meracau sendirian, hanya kata kata itu itu juga yang ingin kukatakan padamu, bahwa kamu tetap ada di ruang isitimewa hidupku. bahwa kamu tetap hidup dalam kehidupanku, kuyakinkan kepada diriku sendiri bahwa aku tak kehilanganmu, sebab aku tak sanggup kehilanganmu dengan beban rasa bersalahku.

jaga dirimu baik baik...


Balairaja, Akhir Maret 2003

Chat terakhir

matamu lelah.
tapi jendela-jendela tetap terbuka.
takada matahari malam ini.
hanya hujan mengetuk pintu.
adakah ruang?
masihkah waktu?
batang-batang lego warna-warni tersusun sebagai
pilar-pilar tempatmu memuja rasa.
sekian lama kauurutkan: merah, kuning, biru, hijau.
tak ada nomor,
tak berbentuk,
walau kau tahu itu adalah
tonggak-tonggak yang akan membawamu menapaki jejak
sejarah.
apakah waktu?
masihkah ruang?
peluh menetes di atas keyboard ketika kau berangkat
menuju sabana kosmos maya.
resah perjalananmu terasa mendada.
seorang penyedih ulung melepasmu berangkat
mencabik pagi bersama luka menganga.
masih adakahruang dan waktu?

Thursday, March 13, 2003

Surat 1

: langitsenja

ada perih disetiap ujung kata kata mengenangmu.
kamu melumatkan kesombonganku dan mencabuti tulang belulang yang membuatku merasa perkasa. aku tak menyesali itu, jika harus kuakui aku merindukanmu.

satu ruangan dihatiku tetap kujaga meski sunyinya penuh, bukan untuk siapa siapa dan tak ada pusara atas namamu disana. aku menjaganya dan tinggal lama lama didalamnya, memutar lagi slide kebersamaan dulu, cukup membuatku terhibur meskipun kemudian aku terbanting pada tembok kalendar; hidup senyataku.


bukan sepi yang membawa hatiku untuk merindui kamu, bukan juga hidup yang memperlakukan dengan buruk, sebab bagiku tuhan selalu masih memanjakanku dengan kemisteriusanya. juga kuminta tuhan; temanku untuk menyampaikan betapa rindunya aku sama kamu. tak apa, tuhan memang maha baik dan aku tidak malu karena merindukanmu.

rasanya berabad abad kamu pergi, tapi tetap saja kamu hidup dalam hidupku yang penuh rahasia. masih terus tersisa damai dan nyaman setiap detik mengingatmu; aku tak pernah kehilanganmu!


Balairaja, 13 Maret 2003

Tentang perpisahan

:langitsenja

Ada yang mempertanyakan perasaan apa yang mengikutimu
setiap kau kenangkan saat-saat perasaanmu tercabut dari akar kenyataan,
dan harus mengikuti sekian banyak peraturan yang mengikatmu
dengan rantai kewajiban dan kepatutan.

Ada yang menangis dengan isak paling sedih
(namun tak seorangpun tahu),
karena perasaan demikian mengiris dan hati demikian rapuh
saat kau ketahui bahwa kau sama sekali tak berdaya
menghadapi yang harus kau ambil keputusannya.
Ada yang memandang didalam gelap,
seolah bayangmu dapat bercerita tentang cahaya yang mengiringimu
setiap langkah dan helai rambut yang berkilat,
harum nafasmu dan segala kefanaan tubuhmu menjadi kesia-siaan dalam kenangan angin.
Ada yang sia-sia menahan kenyataan
bahwa hati terlalu banyak membawa beban
(dengan dalih begitulah semestinya hidup),
sementara langit tak pernah lupa memberikan warna lembayung setiap senja
(sebagai tanda)
menjelang malam.

Ada yang enggan pergi
(sementara waktu tak pernah mau kompromi),
ia begitu setia menemani segala yang terjadi,
dengan segala pengecualian,
ia selalu ada dalam hitam putih hidupku,
a selalu ada dan tak pernah berusaha lari : ia ada disini..

Ia ada.

Tuesday, March 04, 2003

Malam di Pekanbaru

Malam baru mulai,
nafas alam menggeliat disetiap lampu jalanan
menawarkan cercaan atas kepedihan yang kutanggungkan.

Sebilah belati menancap didadaku,
yang kuhujamkan dengan tangan yang gemetaran.
Masih kutunggu keajaiban datang ketika
semua kemungkinan terbungkus oleh aroma sampah.
Separoh dunia mati tiba tiba, berhenti diam dibelenggu bimbang.
Amarahku tak seorangpun tahu,
juga rasa bersalah yang menghakimi.
Inilah aku wahai dunia…!!

Pekanbaru 4 Maret 2003

Friday, April 12, 2002

Menunggu hujan

Tiba bagimu melangkah menjauh
ketika senja menyeret kenangan menjadi gulita
hilang dalam riuh kota
selusin lilin kutabur dikarpet biru
menggumam doa atas kedatanganmu,
seperti setiap derap kaki yang kucurigai sebagai milikmu
yang menyirapkan darah kejiwaku yang menggigil

Kupenjara ribuan kata kata
yang berarakan memenuhi rongga kepala
bersama tanda tanya besar besar tentang adamu.
Sebutir debu kusimpan sebagai kenangan,
peredam amarah tak bertuan
yang mengamuk sepanjang malam,
hujan akan tiba kataku sendirian…
dan pagi datang dengan wajah kusam,
sisa pesta dijalanan….
gerimispun tak ada
kecuali serpihan embun yang menangisi kesendirian…


Balairaja 12 April 2002

Tuesday, July 10, 2001

bunga di dinding

Bunga yang tergantung di dinding...
Kuambil dan kupeluk dengan sebelah tangan....
Indah dipandang dalam keremangan siluet senja,
Hampir malam...
tapi sinarnya membuat hati kembali hidup.
Lama kuterpekur dalam lamunan,
Sampai cahayanya kemudian memendar dan hilang di telan perputaran waktu.

Aku ucapkan salam bahagia untukmu...
Engkau hilang dalam kilasan cahaya yang sempat membekas.
Sekilas walau sangat berarti.
Bersama petir yang menghantar setiap kata-kata datar yang mengiringi
semerbakmu.
Engkau pergi.....
Selamat tinggal...
aku turut berbahagia,
untukmu.

Aku harapkan aku dapat tersenyum bersama luka-lukaku di pekuburan
Seperti orang pada umumnya.
Jangan hiraukan aku karena aku hakikatnya berbahagia karena engkau
melengkapi hidupku dengan luka yang sebenar,
sesuatu yang pernah hilang dari hidupku

Saturday, February 10, 1996

Balada singa sebatang kara

: bd

Seekor singa,
Sebatang kara dibelantara beton
Terseok menahan luka disekujur tubuhnya
ketika marah menyeret
lapar ke etalase pertokoan

Singa ditengah kotapun jatuh cinta
suatu ketika
pada setangkai bungaliar penuh duri
janji dan harapan akan damai sisa hidup
meski aromanya adalah parfum murahan dari pasar tradisional

Seekor singa jantan tumbuh dijalanan
matanya murka
anganya angkara
hatinya iri
meraung lemah sewaktu tikus selokan mencuri bungaliarnya
satu satnya yang dijaga dan dicintai

Seekor singa jantan sendirian dikebisingan kini,
terengah menimbun dendam dan luka jiwa
atas segala mimpimya yang terampas
dan cinta yang sia sia
sedangkan ia rela lupakan lapar dan perihnya…

Benhil 9 February 1996

Thursday, January 18, 1996

Kita

:N

Kerikil tajam menembus telapak kaki kita
damai hidup terasa dibalik perihnya
kita telanjang bergandengantangan
melintasi hari hari keruh
melangakah pasti ikuti kembara matahari
dimana bumi damai tersenyum menyongsong

Dijiwaku seribu kupu kupu bernyanyian ditaburan bunga yang kau ciptakan
dijiwaku sejuta rindu memasung ego
dijiwaku cahaya jingga cintamu memandu
dijiwaku lagu cinta menggema menghibur bumi

Iniliah kita kekasihku,
Yang berjalan dengan kaki telanjang
diatas kerikil tajam kenangan
terang benderang menempuh tujuan hati
;kebahagiaan
telapak yang tertoreh perih
yang menipu nipu
biarlah kita akan tertawa mengenangnya nanti
sebab sedepa lagi kita kan sampai
ketitian permadani lembut tak berujung
dimana jarak yang tertempuh dan cerita yang terlewati
hanya akan tinggal kenangan dalam diary
dan kita akan abadi dalam damainya…


Jakarta, 17 Januari 1996

Friday, December 15, 1995

Sajak bagi penghuni jiwa

:N

Yang membadaikan gelisah
ketika senyap menyayat hati lengang;
bunga hati nun jauh tercerai jarak

Letih merinduku bisu seperti sepenggal sepenggal dongeng Cinderella
atau bahkan episoda cerita kematian sederhana
yang mampu meluruhkan keras tawa hari ini
dan mneggumpa beku dirongga waktu

Hey, matahari kecilku…
Apa warna harimu kini?
Lalu begitu saja aroma jiwamu melumat kelelakianku menggamit lagi stu persatu kepingan jingga dulu milik kita atau warna warni romansa tanpa scenario mengalir melumuri hasrat kalbu hatiku melumpur lantak oleh anggun pesonamu, karam akudisenyum sendirian

Buangaku,
Kupasung bimbang danketakuatanku akan jujur nuranimu biarpu jarak begitu bengins menindas dialog di kalbu kita yang melelahkan
Tidak sebab kita berjalan dengan cinta dan alasan yang akan membebasakan kita dari semau kecemasan

Benhil, 14 Desember 1995

Tuesday, August 15, 1995

Rembulan dikotaku pada suatu ketika

Merah kuning lampu lampu pesta rakyat menebar sukacita,
kemeriahan kota terasa sempurna
merambah gang dan lorong lorong penuh binatang buas berbau tengik
diseluruh penjuru
Anak anakku jadi punya tempat bermain tiba tiba;
bermain seperti dulu kakek neneknya selalu bermain
dan jadi pelakon fantasi untuk juragan besar; pemilik kota.

“akulah pahlawan sebaik baiknya pahlawan
dari semua pahlawan yang membawa kota ini menjadi subur penuh makanan,
dalam kendali kerajaan transparanku
jangan lupa bawa namaku untuk setiap kali hari bersejarah
sebab aku harus selalu ada dimanapun sejarah negeri ini diceritakan.
Ini peryaaan buat kalian ingat dan agungkan namaku
Ini perayaan tolong jangan kencingi kuburku kelak jika aku mati”

Mearh kuning biru lampu pesta rakyat
seperti lupakan rembulan yang polos
diantara jalinan kabel listrik ujung gang dekat rumah petak kontrakanku,
tenang menyaksikan ingar bingar sebuah peringatan munculnya kaum kodok
Rembulan tersipu sewaktu hymne berdengung dengan tempo bersemangat
Sebab kesederhanaan telah kehilangan arti bersama kepicikan pandangan
bahwa penidnasan tak lagi ada.
Rembulan tahu pasti kebenaran negeri ini dari zaman ke zaman,
juga ketika nyala kembang api mengejek sinar redupnya dengan sorak sorai tanpa hati bicara…


Jakarta, 14 Agustus 1995

Thursday, October 13, 1994

Sajak kepada yang setia dalam ingatan

:N

Rinduku mengembara diawang awang
melewati kota kota lumat dalam kenangan
seakan percakapan masih tersisa dipucuk pucuk pepohonan
membimbing asaku menuju
telah kubiarkan semua mengalir disungai kodrat
agar teringkari gelisah panjang ini
yang merintangi inginku;
kerikil kerikil runcing pertalian darah…

Kepada angin oktober yang wangi berhembus
telah kutitipkan cium dan rinduku
yang sanggup menebus segala penghalang kasat mata
dari bangunan nyali kesahajaan
sebab bagiku engkau api dan air
yang sanggup merubah hidup dengan warna sesukamu,
yang menyejukkan dan menghidupkan
bahkan mungkin akan memberangus segala ketulusan
Entahlah…
Aku telah biarkan segalanya mencari pengakhiranNya…

Jakarta, 12 Oktober 1994

Saturday, September 10, 1994

Terpaksa

:Lia

Memaksa hati lanjuti cerita
merasa hilang arah rasa
nyatanya sikapmu menggayut
dalam petualangan kosong
dari dusta ke dusta lainya
memuja sikap kekanakanmu

Aku telah sempurna menilai
begitu buruk arti akrabmu
hingga tak setitikpun asa yang sempat kita bangun dulu
terissa maknanya
telah terbuang
bersama kutemukan lagi egoku
yang sempat kau rompak tanpa hati
kita, setidaknya aku
telah salah menyimpulkan simpati
yang ada kala pekat mengurung
itu saja
kalau tak pernah kutelan bangga atau damai
yang semestinya kita hayati
begitu berat kuharap darimu
kita hanya pandai berkata kata
kita hanya pintar merangkai khayal hampa
bukankah bijak bila kita lupakan saja cinta?


Jakarta 9 September 1994

Saturday, October 09, 1993

Rindu

: N

Kenangan yang membalut di fikiranku
Adalah bayangan manis rindu
Yang mengantarkan tatapan manis ketempat yang jauh
Sementara dialog kita belum sempat usai
Sedangkan kata kata telah begitu tua

Menampung tatapanmu yang teramat manis
Hari haripun menjadi sarat dengan impian
Yang telah kusantap diam diam
Ketika bayangan manis rindumu
Mengacakan kegelisahan teramat panjang

(dari catatan diary, Kuta – Bali 8 Oktober 1993)

Friday, January 01, 1993

Cerita bunga 2

Tetumbuhan bunga yang kutanam dihatimu dulu,
masihkan kau setia menjaga dan merawatnya?

Engkau pasti tahu,
Rinduku selalu lapar untuk menggumuli wanginya,
dan kuingin terbenam dikelopaknya…


Denpasar, 31 Desember 1992

Cerita bunga 1

Rasa sayang ini,
Dan selalu kungin menembus segala mimpi kita
dalam ruang cinta
meraptkan rindu yang membenalu
ke dermaga dimana kau selalu termangu menugguku


Betapapun kesendirian selalu ajarkanaku dan engkau untuklupakan kita,
Aku tak akan peduli!
Biarlah saja musim yang akan menghitung jejak
dan mencatata sampai kapan kita boleh tepiskan hasrat muda

Denpasar, 31 Desember 1992