Tuesday, July 10, 2001

bunga di dinding

Bunga yang tergantung di dinding...
Kuambil dan kupeluk dengan sebelah tangan....
Indah dipandang dalam keremangan siluet senja,
Hampir malam...
tapi sinarnya membuat hati kembali hidup.
Lama kuterpekur dalam lamunan,
Sampai cahayanya kemudian memendar dan hilang di telan perputaran waktu.

Aku ucapkan salam bahagia untukmu...
Engkau hilang dalam kilasan cahaya yang sempat membekas.
Sekilas walau sangat berarti.
Bersama petir yang menghantar setiap kata-kata datar yang mengiringi
semerbakmu.
Engkau pergi.....
Selamat tinggal...
aku turut berbahagia,
untukmu.

Aku harapkan aku dapat tersenyum bersama luka-lukaku di pekuburan
Seperti orang pada umumnya.
Jangan hiraukan aku karena aku hakikatnya berbahagia karena engkau
melengkapi hidupku dengan luka yang sebenar,
sesuatu yang pernah hilang dari hidupku

Saturday, February 10, 1996

Balada singa sebatang kara

: bd

Seekor singa,
Sebatang kara dibelantara beton
Terseok menahan luka disekujur tubuhnya
ketika marah menyeret
lapar ke etalase pertokoan

Singa ditengah kotapun jatuh cinta
suatu ketika
pada setangkai bungaliar penuh duri
janji dan harapan akan damai sisa hidup
meski aromanya adalah parfum murahan dari pasar tradisional

Seekor singa jantan tumbuh dijalanan
matanya murka
anganya angkara
hatinya iri
meraung lemah sewaktu tikus selokan mencuri bungaliarnya
satu satnya yang dijaga dan dicintai

Seekor singa jantan sendirian dikebisingan kini,
terengah menimbun dendam dan luka jiwa
atas segala mimpimya yang terampas
dan cinta yang sia sia
sedangkan ia rela lupakan lapar dan perihnya…

Benhil 9 February 1996

Thursday, January 18, 1996

Kita

:N

Kerikil tajam menembus telapak kaki kita
damai hidup terasa dibalik perihnya
kita telanjang bergandengantangan
melintasi hari hari keruh
melangakah pasti ikuti kembara matahari
dimana bumi damai tersenyum menyongsong

Dijiwaku seribu kupu kupu bernyanyian ditaburan bunga yang kau ciptakan
dijiwaku sejuta rindu memasung ego
dijiwaku cahaya jingga cintamu memandu
dijiwaku lagu cinta menggema menghibur bumi

Iniliah kita kekasihku,
Yang berjalan dengan kaki telanjang
diatas kerikil tajam kenangan
terang benderang menempuh tujuan hati
;kebahagiaan
telapak yang tertoreh perih
yang menipu nipu
biarlah kita akan tertawa mengenangnya nanti
sebab sedepa lagi kita kan sampai
ketitian permadani lembut tak berujung
dimana jarak yang tertempuh dan cerita yang terlewati
hanya akan tinggal kenangan dalam diary
dan kita akan abadi dalam damainya…


Jakarta, 17 Januari 1996

Friday, December 15, 1995

Sajak bagi penghuni jiwa

:N

Yang membadaikan gelisah
ketika senyap menyayat hati lengang;
bunga hati nun jauh tercerai jarak

Letih merinduku bisu seperti sepenggal sepenggal dongeng Cinderella
atau bahkan episoda cerita kematian sederhana
yang mampu meluruhkan keras tawa hari ini
dan mneggumpa beku dirongga waktu

Hey, matahari kecilku…
Apa warna harimu kini?
Lalu begitu saja aroma jiwamu melumat kelelakianku menggamit lagi stu persatu kepingan jingga dulu milik kita atau warna warni romansa tanpa scenario mengalir melumuri hasrat kalbu hatiku melumpur lantak oleh anggun pesonamu, karam akudisenyum sendirian

Buangaku,
Kupasung bimbang danketakuatanku akan jujur nuranimu biarpu jarak begitu bengins menindas dialog di kalbu kita yang melelahkan
Tidak sebab kita berjalan dengan cinta dan alasan yang akan membebasakan kita dari semau kecemasan

Benhil, 14 Desember 1995

Tuesday, August 15, 1995

Rembulan dikotaku pada suatu ketika

Merah kuning lampu lampu pesta rakyat menebar sukacita,
kemeriahan kota terasa sempurna
merambah gang dan lorong lorong penuh binatang buas berbau tengik
diseluruh penjuru
Anak anakku jadi punya tempat bermain tiba tiba;
bermain seperti dulu kakek neneknya selalu bermain
dan jadi pelakon fantasi untuk juragan besar; pemilik kota.

“akulah pahlawan sebaik baiknya pahlawan
dari semua pahlawan yang membawa kota ini menjadi subur penuh makanan,
dalam kendali kerajaan transparanku
jangan lupa bawa namaku untuk setiap kali hari bersejarah
sebab aku harus selalu ada dimanapun sejarah negeri ini diceritakan.
Ini peryaaan buat kalian ingat dan agungkan namaku
Ini perayaan tolong jangan kencingi kuburku kelak jika aku mati”

Mearh kuning biru lampu pesta rakyat
seperti lupakan rembulan yang polos
diantara jalinan kabel listrik ujung gang dekat rumah petak kontrakanku,
tenang menyaksikan ingar bingar sebuah peringatan munculnya kaum kodok
Rembulan tersipu sewaktu hymne berdengung dengan tempo bersemangat
Sebab kesederhanaan telah kehilangan arti bersama kepicikan pandangan
bahwa penidnasan tak lagi ada.
Rembulan tahu pasti kebenaran negeri ini dari zaman ke zaman,
juga ketika nyala kembang api mengejek sinar redupnya dengan sorak sorai tanpa hati bicara…


Jakarta, 14 Agustus 1995

Thursday, October 13, 1994

Sajak kepada yang setia dalam ingatan

:N

Rinduku mengembara diawang awang
melewati kota kota lumat dalam kenangan
seakan percakapan masih tersisa dipucuk pucuk pepohonan
membimbing asaku menuju
telah kubiarkan semua mengalir disungai kodrat
agar teringkari gelisah panjang ini
yang merintangi inginku;
kerikil kerikil runcing pertalian darah…

Kepada angin oktober yang wangi berhembus
telah kutitipkan cium dan rinduku
yang sanggup menebus segala penghalang kasat mata
dari bangunan nyali kesahajaan
sebab bagiku engkau api dan air
yang sanggup merubah hidup dengan warna sesukamu,
yang menyejukkan dan menghidupkan
bahkan mungkin akan memberangus segala ketulusan
Entahlah…
Aku telah biarkan segalanya mencari pengakhiranNya…

Jakarta, 12 Oktober 1994

Saturday, September 10, 1994

Terpaksa

:Lia

Memaksa hati lanjuti cerita
merasa hilang arah rasa
nyatanya sikapmu menggayut
dalam petualangan kosong
dari dusta ke dusta lainya
memuja sikap kekanakanmu

Aku telah sempurna menilai
begitu buruk arti akrabmu
hingga tak setitikpun asa yang sempat kita bangun dulu
terissa maknanya
telah terbuang
bersama kutemukan lagi egoku
yang sempat kau rompak tanpa hati
kita, setidaknya aku
telah salah menyimpulkan simpati
yang ada kala pekat mengurung
itu saja
kalau tak pernah kutelan bangga atau damai
yang semestinya kita hayati
begitu berat kuharap darimu
kita hanya pandai berkata kata
kita hanya pintar merangkai khayal hampa
bukankah bijak bila kita lupakan saja cinta?


Jakarta 9 September 1994

Saturday, October 09, 1993

Rindu

: N

Kenangan yang membalut di fikiranku
Adalah bayangan manis rindu
Yang mengantarkan tatapan manis ketempat yang jauh
Sementara dialog kita belum sempat usai
Sedangkan kata kata telah begitu tua

Menampung tatapanmu yang teramat manis
Hari haripun menjadi sarat dengan impian
Yang telah kusantap diam diam
Ketika bayangan manis rindumu
Mengacakan kegelisahan teramat panjang

(dari catatan diary, Kuta – Bali 8 Oktober 1993)

Friday, January 01, 1993

Cerita bunga 2

Tetumbuhan bunga yang kutanam dihatimu dulu,
masihkan kau setia menjaga dan merawatnya?

Engkau pasti tahu,
Rinduku selalu lapar untuk menggumuli wanginya,
dan kuingin terbenam dikelopaknya…


Denpasar, 31 Desember 1992

Cerita bunga 1

Rasa sayang ini,
Dan selalu kungin menembus segala mimpi kita
dalam ruang cinta
meraptkan rindu yang membenalu
ke dermaga dimana kau selalu termangu menugguku


Betapapun kesendirian selalu ajarkanaku dan engkau untuklupakan kita,
Aku tak akan peduli!
Biarlah saja musim yang akan menghitung jejak
dan mencatata sampai kapan kita boleh tepiskan hasrat muda

Denpasar, 31 Desember 1992

Friday, December 04, 1992

Mimpi disudut satu kota

Musim menggigilkan jalinan jiwa kumuh
aku kerdil tercoret menggali hangat dibatas ada
-biarpun tetap angkuh-
menahan perih sambil menghabiskan hidup sendirian

Orang orang telah melupakan sisa bising
ketika malam berngkat pelan pelan
menghibur kecut atas segala kegetiran hidup
dengan pertaruhan
tempat khayal bersandar kukuh
kebodohankupun tetap lepas menengok jujur kepahitan hati
;kemiskinan yang begitu kental
sampai jiwaku telajangpun tetap tak kugauli
sekedar kebanggaan untuk kubusungkan
dada bagi dunia dimana aku berada…


Gang Jempiring, Denpasar 3 Desember 1992

Asmaradahana

:N
Segugus musim lantunkan tembang asmaradhana dihidupku; buatmu
dibathin kuhirup nikmat kerinduan akan raut bidadarimu

Aku mabok merakit keinginan
hingga kusukai kemunafikan ini
dan kuyakini transparan sikapmu

Asmaraku,
I wish….
I wish…
Entahlah…

Denpasar, 3 Desember 1992

Wednesday, November 25, 1992

Sahabat

: Ampung

Kawan,
Dijiwa kita yang baik terpendam luka
meladeni ketidakinginan dan sekedar ingin
yang tak pernah mampu terada
sedangkan mustahil untuk memunafiki perih yang meradang

Biarlah sahabatku,
kita sedang mencari untuk membeli
(meski lebih mudah menjaring asap)
sampai harga diri dan segala milik kita habis terbantai
Tak apa sahabat,
sebanyak kita mampu mengerti
bahwa logika dan kepintaran kita yang sombong
tak kuat menipu lapar yang ramah menyapa

Kita sedang kalah kali ini, sahabat…

Denpasar, 24 November 1992

Tuesday, October 13, 1992

Kepada seorang dalam ingatanku

: N

Betapapun angkuh jarak memenjarakan ingin
Manis lugumu membercak kekal didinding kalbu
menjadi prasasti terindah dalam bening ingatan.
Kejujurankupun engkau tahu;
berhenti mengejar laju biografi
lalu bersamamu tertawai pengalaman yang melekat ditelapak kaki.

Engkau menjadi matahari dan bulanku,
Yang sekian lama menjejalkan pertanyaan dan hayal
yang menyelimutkan kerinduan
dibumi asing yang berderu dan matirasa ini
Aku telah terkurung diruang berdinding kokoh tanpa wujud
keras melerai asmara yang membadai tak terkira

Aku makin tak mengerti sampai kapan waktu akan usai membelenggu
hingga cintaku rapi berlabuh didamai dermaga jiwamu…

Ubung Denpasar – 12 Oktober 1992