Wednesday, March 07, 2007

Terimakasih



Kuusapi debu yang menempel di album hati
Tempat dulu kulukis warna hari penuh rasa
Warnanya kusam terjauhi matahari
Meninggalkan denyut yang mengurai lara

Inikiah bangkai waktu yang dulu pernah kita ludahi?
‘aku tak punya benci’ katamu suatu ketika
di pematang sawah tempat kita duduk merendam kaki berdua
dan membiarkan puluhan ikan Gobi berpesta
diantara sela sela ibu jari

engkaukah itu yang duduk disampingku
tak membawa aroma tubuh dan wangi melati dulu
engkaukah itu yang lamat lamat meantapku
sedangkan dua matamu dulu menancap erat di palung kalbu

ah, waktu
terimakasih karena engkau masih mengingatku…

Glassbox, 070307

Sunday, March 04, 2007

Dua tahun



jarum waktu melepuh
matahari mati di ujung malam
dua tahun sudah
kaki pincang perih berjalan
diatas lumpur kenangan
berjubah debu kepemilikan
tak mundur tak juga maju

letih,
letih,
letih,
jiwa yang pincang

malam jadi abadi
mengubur seumpama bui
aku telah jadi milikmu, wahai iblis
maka garami semua lukaku sesuka hati

malaikat, iblis dan pedang bengis
mengiris kulit bagaikan beling
menyayat habis tabungan kebanggaan
tinggal kini menghitung
bangkai waktu yang tercecer tanpa malu
selagi nafas tetap menderu
biarlah hidup terus berjalan
dengan keindahan yang menjauh..

dua tahun perjalanan
hanya secuil catatan yang tersimpan
melulu tentang kemuraman

jangan kecewa wahai sekumpulan iblis
jika aku hanya diam menikmati pedih dendam..

Gempol, 070304

Sunday, January 28, 2007

Sajak kepada kekasih



:tet

kukatakan tentang ketakutan yang membelenggu
langkah dan jarak pandang
semestinya bukan menjadi persoalan
sambil kau hitung goresan luka disepanjang desah desah nafasku
adakah kau baca sunyi yang meraja ?
aku terpuruk ketika kau coba raba koreng dijantungku
lalu kau tersedu oleh iba yang membebani

Mestinya tak kukatakan tentang kisah perjalanan
dan bengisnya harapan yang setia kita benci
seperti daun daun yang gugur dan terlupakan
aku hanya punya dada tipis dan lengan kecil untuk kupinjamkan padamu
sambil terus kubuang langkah langkah pincangku
sebab aku tak punya kata kata untuk kita hayati sejuknya
ketika rindu perih menyayat dan kesendirian enggan kita ingkarkan

dan kita tertelan oleh kerasnya hari hari tanpa tepi
sedangkan jarak mentertawakan kenestapaan dibathin

acuh kita memungkirinya
sementara terus kubaca ketakutan yang menggelayut
disetiap detak nadimu
simpati ini meremas keyakinan yang kutawarkan dulu
lantak menjadi sepotong sepotong kisah sejarah
sedang kita tahu didepan hanyalah hamparan kemungkinan
tak satupun mampu kujabarkan
kecuali rasa yang kuhayati kini…


Teso East 6 January, 2002

Jejak Sunyi



Puisiku adalah jejak sunyi disepanjang tepi subuh
sewaktu mimpi tak sempat singgah
kematian datang begitu indah
sampai hangat matahari membagi hidup dan mati lagi
…ketika beku subuh mendekap jiwa…

Puisiku adalah percakapan
tanpa suara dari seribu mulut dirongga kepala
gambaran cemas bagai semilyar kunang kunang sekarat dibola mata
ketika masa berjalan tanpa kelokan dan persinggahan
memanjang bagai tanpa ujung
tak pernah kutahu mulanya sewaktu sunyi pekat melilit hati

dibelantara sunyi amarah dan birahi menjajah nurani
puisiku mengiring perginya setiap lekuk waktu yang terlewat
lihatlah kekasihku,
disini cinta menjadi sekedar kenangan diruang kosong
umpama buku yang tak terbaca sunyi.

Teso east, 6 January, 2002

Saturday, December 23, 2006

Kenangan










rindu mengantar fikiran
pada satu jejak tersisa dari ribuan tapak kaki dulu
jalan setapak telah rusah ke taman itu
dan kini tesesat kehilangan arah
diantara tebing tandus pendakian

memandang jauh ke dusun dusun
rumah rumah kayu roboh dipecundangi zaman
ilalang meninggi membunuhi ladang strawberry dan bunga matahari
tinggal merana menyisakan cerita tanpa kata kata
huma dibawah teduh pohon rambutanpun membangkai
perlahan lapuk menghitung usia

dimanakah gerangan penghuninya?
adakah cerita hidup didalamnya terbawa
dalam jiwa siapa saja yang pernah melintasinya?

dari kejauhan
dari ketinggian
yang tampak hanya kenangan
menyisakan rindu tanpa tujuan
di tubir tebing
tak ada yang menunggu
tak ada yang ditunggu
kecuali waktu yang setia mencatat tapak sepatu…

(kupunguti serpihan indah kenangan,
ternyata melukai dinding hati dimana tempatnya tersimpan
darah menetes jadi air mata,
merindukan rasa cinta yang tinggal jadi angan angan
mambias bersama udara tua)


Nutricia, 061222

Thursday, December 21, 2006

Nyanyian udara









hati mengambang
kehilangan pegangan
terbang melayang
mencari damparan
dimana bumi menjadi batu pijakan
nyanyian sumbang
ditinggalkan angin
dan awan gemawan
pergi mencari pemilik hati
lagu puji puji
dan doa dilantunkan
menjadi penerjemah
hati yang mencari
sayap yang lelah
perlahan patah
luruh ke tanan
menjelempah
menunggu musnah

Aku rindu
rasanya
mencintai
seseorang…

PTIK, 061221

Wednesday, November 29, 2006

Nokturnal Jakarta









Malam menenggelamkan bilik bilik ruang Jakarta
Dalam gelap, rasa dipermainkah oleh fikiran
Mencari mangsa untuk diputar putarkan
sampai dimuntahkan.

Iblis iblis berpesta
pada tidur yang sekejap di ambang pagi
mereka meniadakan beda makna
antara siang dan malam hari
antara benderang dan gelap yang pekat.

Mulut terkatup beku
Padahal kata kata berjubelan di keranjang bathin,
meluber sampai ke ubun ubun
dalam serapah yagn terlontar tanpa sadar.
sungguh, bagai zombie yang dipenjara
tak ada beda makna citarasa
suwung, gung liwang liwung
hampa yang tak bertemu batas
garis yang tak bersambung
dan mesin waktu yang belum lagi rusak sistem kerja,
membagi dunia dalam aturan yant tak pernah ada…

Gempol, Akhir November 2006

Monday, October 30, 2006

Sepatu








pakailah ini, Dik…
sepatu hitam dari kulit sapi
biarpun bekas tetaplah pantas (tertulis) buatan Italy
kubeli dengan hati ditepi jalan Pasar Kramatjati
barangkali saja pernah jadi milik seorang selebriti

pakailah coba, Dik…
pergunakan untuk belajar berlari
mengejar lori yang mengangkuti masa mudamu yang tercuri
inilah dunia kasar palagan mengabdi
kepada hidup dan si buah hati
siapa tahu kelak terukir jatidiri
yang telah sekian tahun membuatmu tersesat mencari

pakailah sekarang, Dik…
dan mari belajar menjadi lelaki…

Gempol, 061029

Sunday, August 06, 2006

Pesan

:N

Sepi membelah riuh yang mengayun
di awang awang angan mengapung
jadi ketiadaan
jalanan udara tanpa marka
sedang hati berlari menyambut
berkejaran saling mendekat

“jadilah bijak wahai nurani”
Sebuah pinta meluncur hambar dari lubang kakus
“ tolonglah diam wahai pendurhaka”
Menjawab jiwa terikat dalam compang camping rasa

Kini lihat dan nikmatilah
hidupku yang dihempas hempas
dengan kaki yang kau pincangkan
kemudian beban tak berguna
kau paksakan jadi tanggunganku.
Biar!
Aku ajarkan hati hertahan
melangkah mencari arah
dalam tuntunan malaikatku yang juga iblismu

Kau tahu, telah kau pancung aku jadi debu…

Dilangit antara Surabaya – Jakarta, 060805

Pulang

embun membunuh pagi
dalam gegap langkah kaki
hampa
hampa
hampa
selaksa udara
hampa

tujuan hendak kemana
tak ada kata jadi sapa
sendiri
sunyi
sepi
diam
mati

kepala berisi peluru
bekal menghambur dendam
jadi perkelahian diam diam
seperti ribuan tahun silam
aku pulang wahai siapa
(?)
pemilik hatiku yang tak berpemilik
bahkan alamat tak mampu lagi tereja
pulanglah pulang wahai hati yang bimbang
berlangkah pincang,
rebah ke tanah sampai musim mengangkutmu pergi
hanyut di telan fana bumi
pingitan malaikat baik hati

selamat pulang wahai jiwa yang malang
sambut rindu bukan kepalang
kepada siapa
siapa saja
dalam angan
kelelahan…

Timika – Makasar 060805

Kacang

: n dan n

Kau ingin aku setia?
menjadi pandu bagi jiwamu yang palsu
dengan ribuan filsafat basi
yang tak kau mengerti
menghambur begitu saja bagai aroma kakus
bahkan seribu lisanku telah jadi tertawaanmu
letih aku mengikuti kekacauan angan anganmu
yang tanpa fikiran
berlari menjauh
dari mercu suar nurani
sakit hatipun jadi kemewahan yang kau persembahkan
bagi singkat hidupku
aku hanya jadi fungsi kulit yang melindungai
sampai hara dan humus membawamu pergi
menjulang dalam menara kesombongan yang kau banggakan
menjejak adaku hingga terjerembab
busuk tak berarti.
Semogalah dimuliakan hidupmu selama bernyawa
sampai saatnya kau mati tenggelam
di kolam air mataku…

diatas langit Jakarta, 060805

Wednesday, June 28, 2006

Patah






engaku harus pergi
mencabut rindu yang menjepit kalbu
justru ketika kusandarkan kepalaku
berisi pecahan kaca yang membenalu
ini hatimu
setelah seratus tahun kau titip
lewat jendela langit yang terbuka
bagi siapa saja pejalan longokkan kepala
demikianlah
harus kupunguti serpihan hatiku
yang kau hempaskan dari ketinggian
hingga hancur berantakan
menempel butiran tanah kering
Tidakkah kau lihat ?
belatung berpesta disetiap sisinya yang tersembunyi!
subuh tadi telah gugur lembar daun yang kesekian
jatuh patah ke tanah
tanpa kisah
sisa embun setia menangisi kematianya
jangan lumuri langitku dengan puji puji
yang meracun mata menjadi buta
mengharap hujan yang perawan
sedangkan musim demi musim melintas lamban
hanya ziarah diantara nisan nisan kenangan


gempol, 060627

Sunday, June 25, 2006

Gundah



Pada ludah penuh amarah tertitipkan gundah
lambang dari kemuakan yang membuncah.
Membentur udara lalu menyembur kemuka sendiri
hinanya menghujam hati

Serombongan ingatan datang semaunya
memporak porandakan benteng perlindungan
berdinding kabut sisa keindahan awan dilangit
yang turun ke bumi menjadi imitasi.
Sekonyong konyong saja murka
Mengoyak ngoyak tabir palsu yang menyembunyikan luka,
kebenaran yang semestinya.

Kepura puraan demi ini itu mengandungkan maknanya merugi
melahirkan duri yang kelak akan berakar tetap sebagai duri
memelihara iblis di kandang kenangan dengan jaminan diam.
Malam telah terlalu tua untuk mencabut kata kata
yang tertancap di batu karang waktu.
Menyebabkan pandangan menjadi pecah
jadi butiran tanpa makna,
kehilangan buruan jawaban.
Denyut darah telah menjadi nanah,
mengalir menuju liang tujuan,
kegelapan lain lagi.

Ah, aku rindu kepada kebahagiaan hidup; sang masa silam.

("Don't ever say that!" you said)
Gempol 060624

Monday, June 19, 2006

Sajak Perpisahan








(Tertulis untuk tet)

sajak perpisahan
sudah kukemas harapan
serta hati diceraikan dari sekelompok benih kasih
dan pagi melangkah sendirian
permainkan kekecutan hidup
tiba tiba saja membayang
bagai lakon wayang purwa
melulu kepedihan dan kesedihan

kaki melaju dihadang kenangan kental
baru saja kucium harum nafas kekasihku,
sambil berkisah tentang penghianatan
seperti pengmis menawarkan iba
tertinggal itu semua
jauh ditanah yang jauh
tertinggal lekat dalam dada
dalam kepala,

suara terakhir
senyum terakhir
tangis terakhir
menjadi pahit
dan mengkarang dikandang kenangan

selamat tinggal bekas masa depan…

Teso East, 31 Juli 2002

Saturday, May 27, 2006

Konsesi hati







malam ini engkau bilang
telapak kakimu berdarah tertusuk pucuk ilalang
yang memberontak dari pengab tanah gelap
dalam pengembaraanmu di rimba hatiku
maafkan
aku tak bisa menumpas akar kenangan
yang terbaring dikedalaman angan angan
sebab hanya itu penawar lapar dahaga
bagi semak semak kenangan dan pengalaman
yang bertahun ditinggalkan embun

di sabana kosmos maya
kupasrahkan serpihan jiwa kepada sesiapa,
sesekali berharap elang pengembara akan datang bersarang
membawa kembali kehidupan yang hanyut
oleh guyuran awan panas masa silam


tidakkah engkau saksikan?
pohon pohon teduhan sekarat disana sini
teraniaya dan hangus oleh bencana.
mengharap hujanpun yang datang badai asam
menggarami luka demi luka yang terabaikan
hanya tersisa bukit kapur
dengan tonggak tonggak sisa kehidupan
dan
pucuk pucuk ilalang yang mencambah
dari pengab tanah gelap…

gempol, fajar 060527

Thursday, May 25, 2006

Symptom kehilangan









Dendam menyeret kedalam kegelapan
Tersesat didalam rimba ketidak mengertian
Hingga terdampar di keterpencilan
Lepas balon mendesak dada
mengakui kemenangan sang kalah
Terbebaskan dari penjara

Di dunia penuh kegelapan
Kita semua perlu cahaya
Kita semua memerlukan sesuatu untuk melewati malam
Meskipun hanya sekedar secercah harapan

Badan mati kehabisan asa
Di ubun ubun iblis berkerumun
Tinggal bunyi hujan tangisi malam…

Gempol menjelang pagi, 060525

Saturday, May 13, 2006

Kosong


kusapa ruang ruang kosong

tempat kebekuan menjadi dinding

peisimis langkah punguti serpihan masa silam

kurangkai kolase dari potongan kenangan

tinggal menyederhana sebagian telupakan

Angin melintas disela batang trembesi

menyambut lembut pada dada yang kerompang

miskin harapan

menatap tinggi menara

tempat dimana satu cuil sejarah pernah diukir

nafas hampa meratapi dinding

mengharap jawaban dari selusin pertanyaan menggema.

Senja ini,

Aku menyakisikan hujan

begitu bebas berkeliaran di langit,

mungkin letih bersetubuh dengan petir.

menghempas di permukaan beton

lalu ceria mengangkuti debu kota ke paru paruku.

Secangkir coklat panas lewat di kerongkongan

tanpa kesan

dan tanyaku menghambur

tanpa jawaban…

Mega Kuningan ketika kekosongan merajai hati 060512

Hujan suatu petang


Dilangit kubaca hujan,

kisah perkawinan iblis jantan dan betina

untuk pestanya petir menyincang sejuk angkasa

menjadi butiran air mata,

beku menghempas aspal dan trotoar

untuk mengangkuti caci maki dan kutukan,

berharap lekaslah lesap dibalik akar angsana yang menggigil sunyi.

Pekat udara mematikan harapan,

mengapungkan satu demi satu goresan luka

yang lama kutenggelamkan menjadi pijakan kaki dilumpur kalbu.

Tak sanggup lagi kutipu darah yang menetes dan menyusuri perihnya,

maka runtuh sudah ruang dimana duka lara kupenjara.

aku diam,

menghayati angkara yang perkasa mengoyak jubah

diangkasa yang hitam tawa dan hinaan menjajah batin

melumpuhkan perjalanan

sungguh aku letih

memunguti serpihan hati yang berceceran

kini menggenang diselokan ingatan

bersama keruh bangkai hujan

Gempol ketika murka tak mau pergi dari hati 060513

Tuesday, May 09, 2006

Nanyian tidur

:Fei





Menggenang angin malam musim kering dikotaku,
mengantarkan percakapan tidur
tentang kerinduan demi kerinduan
kita tabungkan jadi kenangan,
bebarpa kandas menjadi harapan semata.
Namun tetap kujaga dan pelihara,
rasa yang sejak purba kita punya; cinta yang tak pura pura.

Dikotaku,
Senyummu mengambang dilangit berwarna abu abu
bersama sisa jejak rembulan tiga perempat lingkaran
bau tubuhmu menghampiri syaraf dan menggigilkan jasadku
berdiri gemetar bimbang
diantara puing puing kebahagiaan
; kerangka labil bagi kemuliaan kehidupan.

Di langit kotaku, kupandang wajahmu sendu
Kita berdiri saling membatu
merabai bangkai waktu yang menjelempah penuh darah
Penganiayaan atas kesejatian bentuk keinginan…

Kita saling berpandangan
Dari kejauhan
hingga fajar datang membuyarkan…

Selamat tidur sayang,
semoga cinta yang tak cukup terangkai dalam kata kata ini
menaburkan sedikit saja sejuk bagi gersang hatimu…

gempol, 060509

Friday, May 05, 2006

Datang dan pergimu










Engkau bertemu laut malam ini
engkau menyapa kelam
hanya angan berisi mayat kenangan
datangmu bagai angin ketika fajar menyingsing
dan pergi setelah gelap mengkonfirmasi keberadaan senja

Tolong sampaikan kepada buih pantai
aku rindu pada hidupku
ketika sanggup kulukis rembulan
di kanvas angin hitam
kucatat kisah perjalanan jadi puisi peringatan

Sepotong daratan terapung membawamu menjauh,
mengangkut kehidupan
yang melulu berisi pertemuan dan perpisahan,
berisi teka teki harapan dan catatan kenangan,
sebagian tercecer di buritan adalah penyesalan

Engaku pergi meninggalkan gemuruh,
Aku ada, entah dimana…

(Gempol, 060415 - sebuah catatan kecil untuk peri sebelah hati yang datang dan pergi hari ini)