Wednesday, August 22, 2007

Salah











Rasa bersalah membebat kaki
Meilntah pada nadi
mengalirkan kesukaan dari angin dan butiran hujan
Nurani menghakimi sikap
ingkar kepada keniscayaan masa
Satu kaki menapaki dunia terang
Selebihnya berjalan dalam kegelapan
Hati yang rapuh bermimikri dalam bimbang
Sesekali berhenti merenung dalam
‘apa yang kau cari, wahai hati?’

Didepan jalan masadepan
Luas melempang tanpa penghalang
Dan cinta yang bercabang mengaburkan pandang
Menjadi secuil secuil fragmen sejarah
Tunas kasih yang tumbuh dari patahan ranting jiwa
Tumbuh justru ketika kemarau meremukkan iga

Pada waktunya engkau harus kembali
Menjadi diri representasi adat
Dan kita tinggal punya cerita
Tentang duni kecil berpelangi
Sunyi tak berpenghuni
Dunia tak bertuan
Dimana hati jadi tumpuan
Tempat kita sembunyi dari kegetiran
Dan mereguk suka sepenuh jiwa

Usah dikekang
Usah dikenang
Jalani saja
Sampai dimana
Kaki akan berhenti
Mati…

Ciracas, 070821

Thursday, August 09, 2007

Sketsa sore





Perlahan menjauh dari tempik sorak dunia
Sesadar kita, usia telah menjadi tua
Seperti daun cemara yang rontok
Jadi sejuk oleh tanah lembab gunung Lawu dulu

Sahabat datang lewat sekerjap
Mengabarkan kehidupan panjang angan angan
Nun jauh dari seberang lautan
; berharap suatu saat kita dapat bertatap mata
Rindu ini seperti keong yang memfosil di batuan cadas
Jadi gambar penjaga sejarah belaka
Kehilangan hidup,
Juga kehilangan kematiannya

Seranta debu luluh di aspal jalanan
Bersama serapah yang tersembunyi disetiap atas roda
Lelaki yang beruntung
Perempuan yang beruntung
Dalam persoalan hidup yang terus merubung
Menyatu dalam sore yang memerah saga

Ciracas, 070809

Friday, July 13, 2007

Subuh








Dan…
nanti jika fajar mengantar matahari ke atas bumi
mungkin tidak akan kau temukan sapaku di langit ruanganmu
aku telah menebus pagiku dengan menemani sepi
menelusuri ujung malam
menuju pagi

sebentar lagi ufuk jingga akan merekah di timur sana, dan cicit burung akan membahana mengiringi deru kehidupan, deru mesin dan deru kecemasan
; apa yang bakal terjadi hari ini nanti...

Butiran embun tadi menerpa wajahku sepanjang jalan
mengantarkan rindu yang menggulung hatiku akan sosokmu
akan hangat dan sejukmu.

Engkau menjadi setetes air kehidupan
bisik angin lembut yang kelelahan setelah menyelimuti atap rumahmu tadi
menidurkanmu dalam mimpi yang menenteramkan.

Pejamkan mata pedangmu
peluklah mimpimu
rebahkan segala gundah dan resahmu pagi ini
biarkan alam menjalani tugasnya diam diam

Mengawal langkah waktu menuju pagi
serasa seperti mengiringi seekor kupu kupu berjalan menjelajah langit Sunyi ini begitu indah untuk dikenangkan
bahkan fikiran yang ramai memanggil bulan dan bintang bintang yang telah menghilang

Dalam sendiriku, kutemukan engkau luruh dalam pelukan rindu...

Ciracas menjelang subuh, 070713

Monday, July 09, 2007

Istirahat




besok saja kita lanjuti
berburu kata di rimba udara
sekarang letakkan pena
matikan lampu
cahaya redup
fikiran hidup
rebahlah rebah raga kasihan
lelaplah lelap sukma melanglang
mengendaplah perih dengan ketenangan
biarkan insting menayangkan
buah dada sekerjapan mata
lalu senyum di wajah orang orang kesayangan
alam,
wangi aroma rumput surgawi menemani
kutitipkan ragaku dalam penjagaanmu
sementara aku berselancar di dunia jeda
batas tipis antara hidup dan mati
tempat tinggal para malaikat dan bidadari


Gempol menejelang fajar, 070709

Saturday, July 07, 2007

Kedatangan









Rintik hujan tengah malam mengurai kalahku
pada angin kotamu yang menerpa wajah
bersama aroma malaikat pengawalmu.
Aku menyingkir ditepian garis takdir
untuk kesekian kalinya menyerah pasrah.
Aku jadi hanya seonggok tubuh resah malam ini,
terkubur hampa terbunuh cita cita.

Apa yang kau cari wahai bidadari?
Berjalanlah lurus jauh kedepan,
biarkan pemburu tidur bersama senapan dan pedang.

Cerita tentang perbukitan batu kejadian selamanya gersang,
tanpa kehidupan
hanya benda mati bernama catatan pengalaman.

Selamat datang dikotaku, embun dan malaikat
meski bukan pintuku yang kau tuju


Gempol, 070707

Dua Bola Mata





bintang bintang telah jatuh diselatan
akan kukenangkan wajahmu dalam lamunan
daun daun mahoni gugur menari di sepanjang jalan Binamarga
aku terbang menuju awan
bersama kekosongan dalam angan angan
matahari mendorong punggung
kubangun mimpi yang berputar di setiap tikungan kehidupan
benda mati menyimpan sejarah misteri
sedangkan yang hidup mengumpulkan tragedi demi tragedi
wangi rumput surga memenuhi rongga jiwa
dengan matamu setajam pedang para syuhada
mata yang menyimpan telaga kejujuran bagi dahaga si pejalan
inilah aku,
pecundang lesu di kegelapan
yang membangun rongga rongga persembunyian
untuk wajah yang berlainan.
inilah aku,
yang sepanjang hidup dalam pelarian
tanpa pencarian
hanya menelanjangi diri dengan pengakuan

dan kau benar,
drama bukannya terlalu cepat selesai
kita hanya salah memulai
atau kita yang tidak biasa melakukan
yang pasti,
sang waktulah si pengendali kehidupan…

Gempol, ketika daun Mahoni pada gugur 070707

Wednesday, July 04, 2007

30 Tahun Bulan Purnama



Rebahlah kepala
di pangkuan bunda tersayang
berselimut cinta di pelataran
langit tanpa batas
luas yang maha biru
bulan bulat seumpama koin
ditimpa semerbak wangi rumput teki
menyambangi sunyi
suara satwa dan jerit jelungan dikejauhan
jadi ilustrasi dongengan suara merdu bunda
mengantarkan kantuk
pada malam sejuk dibawah purnama

(30 tahun kemudian…)

ditimur laut
bulan bulat umpama bola
penuh
sepenuh hati yang berisi cerita
dan bunda tersayang dalam boncengan…

Apa cerita hidupmu tigapuluh tahun belakangan, anakku?

Dan malam berkisah tentang hidup
kalis dari pedih dan luka luka masa lalu
; anakmu kini jadi lelaki

Ciracas, 070629

Bisikan Kegelapan



(Tristan & Isolde)

wajah dan mataku muncul dari kegelapan
dan hati yang gelisah menjadi damai kini
dimana kita bisa menemukan tempat yang lebih baik?
tanpa menaklukkan utara
dan menundukkan barat

apapun yang mati tidak akan menjadi setara
jika cinta saling menyatu
dan bisa saling suka
tak ada yang menjadi nomor dua
tak akan ada yang mati
ada kehidupan yang lebih baik
dari sekedar kematian
;kesendirian adalah segalanya

Ciracas 040707

Friday, June 29, 2007

Cinta Terlarang

: embun


kemarin aku melihat
pasangan begandengan tangan
tidak ada yang aneh dalam pandangan

aku baru sadar
kita tak pernah melakukan itu
tidak pernah seperti itu
tidak pernah pergi bersama
tidak ada cincin yang sama di jari kita

hanya ada pertemuan
juga perpisahan
dan saat
yang terlalu cepat berjalan

cinta adalah buatan Tuhan
aku tak sanggup mengabaikan

tapi kenapa mencintaimu adalah kesalahan?

Gempol 070629

Monday, June 11, 2007

Mantrasmara



: Dew

kepada malam malam yang rapuh
telah kuserahkan hasrat yang membuncah
di pelataran mimpi angan berkubang
oleh senyum dan hangat sentuhan
ciumanmu terbawa oleh angin pancaroba
melintasi selat dan kota kota
menghujam palung rindu karatan
lusa pasti kan tiba
dimana ribuan rencana dalam tabungan
bergegas menghambur membaurkan waktu
ikatlah seuntai kenangan dalam tulisan
nanti jika angin basah menghembus wajah ayumu
dan meniupkan mantra pengantin di tanah yang bukan milik kita

pada gerimis yang mengigilkan matahari
jarum arloji terpasung kehendak hati
terburu buru lewatkan hanya satu hari
sekedar menuai ingin yang menganak sungai
menyesatkan penantian dalam pencarian
lambang kekacauan alam fikiran

aku hanya ingin,
menemukan lagi sorot matamu
lalu tenggelam dalam damai cinta kasihmu…

nutricia – diantara rintik gerimis 070420

Friday, June 08, 2007

Usai Hujan




hujan selesai.
tanah basah.
angin pergi.
udara mati .
hampa menghanyutkan hati siang ini
lalu biru..
syahdu mendayu di dalam sana…
bau ampo membahana
aroma wangi rumput surga
membawa harum tubuh tubuh kenangan
berjubal dalam ingatan

ketika hujan reda
hati menggigil sendirian
beratus tahun sendirian
terapung di laut masalalu
menuju belantara masadepan

dan cintaku entah dimana...

ciracas usai hujan, 070608

sajak rindu - 2


rindu ini
seperti langit yang menunggu rembulan
atau matahari

sepatah sapa laksana nyala api
memberi cahaya dan juga kehangatan
di dalam gelap goa batu pencarian
kadangkala,
sepotong sapa bagai tetes sisa embun pagi hari
memberi sejuk untuk hidupkan yang mati

rindu ini milik hati
seperti air yang mengalir ke bidang rendah
seperti angin yang mencari ruang kosong
hanya punya seribu arah
tujuan kemana kan pergi

aku rindu rasanya mencintai sesuatu
sebab cintalah yang menghidupkan dunia
ia peta bagi jelajah batin
atau sekedar berbicara dengan bahasa yang sama;
bahasa hati semata

ciracas, 070608

Thursday, May 31, 2007

pergi













kepada gelap udara aku bertanya
semalam tadi
tentangmu yang terbawa angin pergi
tak ada jawaban
hanya malam yang berjalan sempoyongan
kehilangan cahaya
juga jawaban

setetes air mata jatuh dari angkasa
entah punya siapa
mencium lumpur kering
dan jejak kaki
jadi debu
hanya sebutir saja

terima kasih
untuk pernah melintas
di langit luas…

nutricia, 070531

Tuesday, May 29, 2007

mencintai rindu









di antara gumpalan awan,
di antara deburan harapan
di antara pekatnya tanda tanya
kucari engkau siang ini,
beberapa inci dari matahari
langit terlalu luas untuk menemukan adamu,
wahai rasa mencintai
aku rindu sapamu...
nutricia, 070528

Monday, May 21, 2007

Malam Sunyi



langit diam tanpa rembulan
embun gugur dalam rencana penciptaan
sepi yang menikam
biru hitam semesta alam

mendung membungkus langit
memenjara angan
sepi menyempurnakan rinduku

disini kupeluk bayangmu
agar dekat dengan mimpiku

ah…
sesegera inipun
malam telah jatuh tua
Gempol, sepanjang sepi 070520

Wednesday, May 09, 2007

Engkau dan langitku


mengeja kerlip bintang
dulu engkau perkenalkan padaku
di planetarium khayali
kukenali satu, mengerjap lalu pergi
‘supernova’ katamu
sebelum jatuh kita dari loteng
tempat teleskop terpasang
menantang langit malam
jatuh mencium bumi kenyataan

seratus tahun kemudian
hatimu tak lagi mengijinkan
sekedar merabai kenangan
tarpahat di dinding waktu
sendirian aku menangisinya
sangkaku sapamu memupusnya
ternyata hanya sedu sedan penimbun rasa
kesekian kali aku pergi
hanyut pada angin yang kau usir
tak berharap menemukan apa apa
ku ikuti saja hati

bagimu,
tak ada lagi yang nyata
tak ada lagi rasa
ah,
sia sia...

Nutricia 070509

Friday, May 04, 2007

Sajak Rindu Sederhana

( Voice of innocents )

Aku punya alasan untuk menemuimu
Aku ingin bertemu dengamu
dan berbicara padamu
aku akan menunggu sampai kapanpun
karena tidak ada orang lain
yang dapat kucintai seperti dirimu

aku rindu padamu …

rindu yang tidak tertahankan
aku ingin bertemu denganmu
walau hanya bayanganmu saja

aku rindu padamu…

aku tidak bisa melupakanmu
karena kebahagiaan dan keceriaan
yang engkau berikan padaku…

gempol 070504

Thursday, May 03, 2007

overload



(Yang tercatat diam diam
Dari sebuah detik kesadaran)

Aku marah pada arloji
Yang tak memberiku waktu untuk berjalan
Sedangkan mentari menggoda sejak pagi

Aku ingin melaju
Membelah angin diatas keyakinanku

Hari ini telah kurenda nafas satu satu
Memupus harap pada yang pergi
Patahkan kunci dan biarkan mati

Di peti kenangan kusimpan
Sejuta rasa dalam peraman

Menunggu matahari tenggelam
Ternyata bisa lebih lama dari
Seribu tahun sendirian…

Nutricia - 070503

Ibu



usia telah memasungnya menjadi tua
pengalaman terpenjara dalam kurungan waktu
puluhan tahun membendung luka sendirian
menyembunyikannya dari tatapan sang tanggungan
hingga yang tersisa hanya damai
dengan luruh ke bumi
penderitaan menjadi milik penerbang
dengan kaki menginjak langit

maka aku pergi, ibu
mengikuti kaki laki lakiku
menjejak bumi jelajahi nyali
sampai ke ujung tanah
menyeberang lautan
terkadang terbang di awang awang
tempat tempat dimana dulu mimpi engkau tawarkan

; sekedar mencari makan
kumpulkan serpihan pengalaman

di wajahmu yang ayu tersimpan rinduku
menjadi jimat penguat kalbu
bahkan ketika badai dan guntur beradu
sampai nanti tiba saatnya
yang kau pinta akan jadi milikmu;
mori panjang untuk kain kafan


Gempol – Nutricia 070425 - 070503

Tuesday, May 01, 2007

Nyanyi perindu

: Liu Huangfei

seranta angin menembus senyumanmu
mengambang diantara kebimbangan hatiku
sapamu meruntuhkan tembok hijau
yang baru saja tumbuh terpupuk pertemuan

pagi ini aku menyelam dikehangatan sinar matahari
katamu lewat sepasang kupu kupu
yang melintas tepat didepan wajahku
kotaku sepi sejak engkau menghuni hati
sebab yang tertampak hanya rindu melempang
setelah ribuan tahu kita dipisahkan
dari pertemuan terakhir di stasiun yang itu juga

aku jadi ingat mata mungilmu
memandang jauh kelangit keniscayaan
permainan hidup dalam genggaman
ternyata sederhana menggubah impian
ikutkan hati saja pasti kan kejadian
lalu mbrabak matamu dalam keharuan
ketika genta dipukul tanda perpisahan

“biar sebentar tetaplah indah…”
bisikmu pada langit penghiburan
dan aku terkesima pada dinding kenangan…

ya,
setidaknya aku punya kenangan itu

Nutricia, 070501