Sunday, December 20, 2009

limbung








dengan peluru dari masalalu
telah kau robek hatiku
berkeping kini
matikan wujud tinggal serpihan

pada dinding ruang kenangan masih basah tergores kisah
perempuan dan lelaki penduka suatu ketika
lantak oleh khianat cinta
membutakan matahari beratus ratus hari
yang kukisahkan padamu kala itu
sebagai tugu semboyan lambang peringatan
diam diam telah kutitipkan hati rapuhku padamu
yang hari ini telah kau cabik cabik jadi debu
mengehempasku pada dasar kenistaan
wahai pribadi yang kupuja tanpa peduli waktu

tipudayamu telah menyemaikan dendam di jiwa karatan
kau buat aku meradang oleh tumpahan kepalsuan
yang kau paksakan;
cerita indah karangan fiksi, pelamur durjana penghina logika
mungkin engkau sudah lupa
aku masih ada sesudah kiamat pertama
dan sekali ini kuterima laknatmu persis ditengah dada yang membara
melimbungkan langkah mencari arah

hingga gelapnya matahati kan menemu cahaya
kuserahkan nasib pada sang waktu
hakim paling adil bagi ketidak adilan ciptaamu
sambil kunikmati ribuan iblis yang menjajah kepala
menusukkan ribuan jarum ke jantungku
aku terkapar oleh permainan ciptaanmu
didera hujan beling atas penghianatanmu

Bambuapus 091219

4 comments:

buderfly said...
This comment has been removed by the author.
Meti said...

kok... ? ga mudah untuk datar...

buderfly said...

metik: ketika langkah limbung, keadaan mengharuskan kita untuk survive. Membela diri ...

pembuang sampah said...

banyak yang mahu dikata,tapi diakhiri mati.mungkin lebih indah bila melihat dan bisu.
:)